Menimba Ilmu di Negeri Sakura Modal Nekat dari Beasiswa Jepang

Lanjutan dari artikel yang gue buat tiga tahun lalu dengan judul Satu langkah lagi menuju kehidupan yang sebenarnya. Akhirnya gue putuskan untuk mencoba sesuatu yang berbeda dari rutinitas kesibukan sehari-hari bekerja gue, yaitu adalah…. maen game online belajar lagi! Yup, gue pengen coba ambil strata 2 (S2) belajar di negeri sakura dengan Beasiswa Jepang.

Berburu beasiswa

Di awal tahun 2013 ini gue mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi edu fair di Surabaya, pada awalnya gak ada universitas kusus yang gue tuju, melainkan fokus gue cuma pada ada atau tidaknya beasiswa. Kenapa beasiswa? Karena gue pikir kalo bisa lanjut kuliah di luar negeri, ilmunya dapet, experience nya juga dapet..

Singkat cerita, gw dapet beberapa opsi universitas. Mostly di Australia dan Jepang. Mulailah gue research satu persatu universitas itu dari mesin pencari super yang bernama http://www.google.com. Berbekal dari ijasah S1 yang boleh dibilang lumayan excellence (nyombong dikit boleh lah..), gue beranikan diri untuk daftar ke beberapa univ yang jurusannya masuk dengan minat gue.

Waktu berlalu dan hasilpun tiba. Satu universitas yang memberi jawaban paling cepat dan scholarship plan paling oke adalah Ritsumeikan Asia Pacific University Japan (link: http://en.apu.ac.jp/home/). Kenapa bisa paling oke? Karena -menurut sumber terpercaya- univ ini tawarain 2 (dua) beasiswa sekaligus: beasiswa tuition (uang kampus) dan beasiswa pemerintah jepang monbukagakusho (JASSO) yang bisa gue pake buat nutupin living cost di sana (meskipun hanya beberapa bulan awal saja). Tapi it’s okay lah, ntar bisa kerja part-time juga di sana. Begitulah akhirnya gw dapet beasiswa Jepang.

monbukagakusho beasiswa

Persiapan ke Jepang

Jepang, pertama kali yang keluar dibenak gue adalah anime. Ya gue memang penggemar anime dan Japanese culture, meskipun nggak terlalu fanatic (buat yang blm tau, anime adalah film kartun Jepang). Oke, tapi tau anime dan budaya Jepang juga nggak bakal ngejamin gue bisa bertahan hidup di negara yang hanya pernah gue liat dari layar laptop / tv. I absolutely need something else!

Les Bahasa Jepang

Kata orang, bahasa adalah jendela dunia. Ya, gue baru sadar bahwa bahasa Inggris gue pas-pasan, apalagi bahasa Jepang.. taunya cuma kimochi :D… Akhirnya gue mau ga mau harus mencari tempat les bahasa Jepang. Gue cuma punya waktu 3 bulan sebelum keberangkatan, minimal target gue adalah bisa baca hiragana dan katakana dulu, itupun butuh perjuangan dan waktu.

Kontak Temen yang Ada di Jepang

Malu bertanya, sesat di jalan. Kebetulan gue ada beberapa temen yang study dan uda kerja di Jepang, langsung ga pake pikir panjang gue kontak dan tanya detail apa aja yang perlu dipersiapkan dan minta sedikit tips agar bisa survive di negeri orang.

Beli Tiket Pesawat

Tetep butuh modal awal, gue harus beli tiket pesawat dan bawa uang saku secukupnya. Karena mahasiswa lain yang berangkat dari Indonesia kebanyakan dari Jakarta dan pake flight yang harganya ga ramah dikantong, akhirnya gue putuskan untuk cari tiket pesawat murah sendiri. AirAsia! Ya, kursi murah mana ada lagi selain di AirAsia. Gue dapet oneway tiket ke Tokyo Haneda ga sampe dua juta. Tapi gue kudu harus sengsara nginep semalem di airport karena jam transitnya lewat tengah malem di Kuala Lumpur. Ya.. ada murah ada sengsara.

airasia jepangairasia cabin

Touch down Tokyo Haneda

Yay! Setelah 8 jam di dalam pesawat, akhirnya pijakan kaki pertama kali di Negeri Sakura. Impresi pertama adalah profesional, ramah dan bersih. Klik cepret cepret, biasa… kebiasaan orang Indonesia kuper di negeri asing langsung ambil kamera dan foto sana sini 😉

touchdown jepang touchdown haneda

Naek MRT dan taksi ke Apartment Teman

Lho!? Kenapa kerumah teman? Yup! Karena ngejar tiket AirAsia murah, maka schedule juga ga bisa seenaknya.. alhasil tiket paling murah waktu itu gue dapet tanggal 10 September 2013. Dan itu seminggu lebih cepat dari pada rombongan temen2 Indo yang berangkat bersama-sama dari Jakarta. Karena asrama kampus gue juga blom bisa ditempati lebih awal, maka gue mikir, kalo harus nginep di hotel seminggu juga sama aja mahal. Akhirnya gue tanya temen gue yang bersedia menampung gue selama seminggu dan setidaknya gue tau situasi dan kondisi hidup di Jepang dari dia. Singkat cerita gue naek MRT lalu oper naek taksi biar bisa nyampe di lokasi dengan tepat (gue kira murah ternyata taksi di Jepang naudzubillah mahal).

touchdown mrt mrt jepang taksi jepang

Hari Pertama di Negeri Sakura

Hoaamm.., bangun pagi pertama kali di Jepang merupakan kenangan pertama yang tidak bisa dilupakan. Udara segar tanpa polusi dan angin pagi sepoi-sepoi merasuk ke dalam jiwa dan raga.

pagi hari jepang japanese road

Apartment di Jepang

Mungkin sudah bukan rahasia umum lagi kalo rumah dan apartment di Jepang itu sangat efisien (baca: sempit). Karena apartment temen gue juga sebenernya cuma cukup buat satu orang, jadi ya harus menyesuaikan dan tidur di alas sekadarnya.

apartment jepang apartment jepang dapur apartment jepang sempit

Makanan Murah di Jepang

Jam sudah menunjukkan pukul 8:00 AM (pagi) dan temen gue uda harus berangkat kerja, lalu ada kata-kata dia yang bikin gue shock! banget. Dia bilang “ntar klo mau pergi ditutup aja pintunya, ga usa di kunci gapapa“. Whatt!!? Ga takut kecolongan apa ya? Tapi ya dia yang lebih tau, so I did what he said dan emang ga terjadi apa2.

OK, karena bermodalkan nekat, uang saku yang gue bawa waktu itu cuma 20.000 YEN atau sekitar dua juta rupiah (waktu itu kurs IDR/YEN masih 90 an). Gue harus bisa bertahan hidup seminggu dengan uang itu brarti perhari gue cuma boleh pake maksimal 2500 YEN.

Mc Donald

mc donald jepang
Tempat makan pertama yang gue kunjungi adalah Mc Donald, karena blm ada restaurant yang buka dipagi hari. Gue kira pelayannya bisa ngomong Inggris donk, secara itu international restaurant. Ternyata gue salah 🙁 . Sehingga gue cuma bisa pake bahasa tubuh dan arigatou doank. Sehabis makan gue culture shock lagi! Karena kebiasaan di Indonesia abis makan tinggal cabut, di Jepang, abis makan beresin meja sendiri, untung gue ngeliat ada anak kecil yang ngelakuin itu, jadi gue ga asal tinggal cabut aja, kan malu ya kalah ama anak kecil.

Roti dan Onigiri

supermarket jepang roti jepang

Biar hemat, sepulang dari Mc Donald gue ngelewatin minimarket dan gue memberanikan diri untuk masuk dan belanja roti disana. Setelah ambil beberapa roti, onigiri dan susu gue langsung menuju kasir.

Dihitunglah itu semua barang-barang yang gue beli. So far so good, gue aman si kasir ga tanya macem2., ketakutan gue akhirnya muncul ketika si mbak kasirnya tanya “pointo kado arimasuka?” (Ada kartu point / kartu member?). Gue panik, gue ga tau dia ngomong apaan, dari pada awkward gue pura-pura pinter dan gue jawab aja dengan “Hai” (Ya). Terus kita saling bertatap mata.. dan hening.. Si mbak kasirnya nungguin gue ngasi kartu member dan gue bingung dia nungguin apa? Damn! Akhirnya gue terpaksa ngomong “Sorry I cannot speak Japanese“. Dan si mbaknya langsung ketawa sambil lanjut kasi tau total harga belanjaannya.

Setelah gue bayar, gue culture shock lagi! Sebelumnya gue uda ngerasa aneh aja, barang belanjaan yang gue beli diambil dari keranjang belanjaan gue, trus di scan barcode (beep.. beep..) trus di masukin ke keranjang lain. Hmm.. Kenapa ga dimasukin ke kantong kresek ya? Ternyata oh ternyata, gue mesti masukin ke kantong kresek sendiri. 😀 (sungguh pengalaman berharga)

Satu minggu di Jepang

MRT Jepang gotanda jepang

Banyak hal yang gue lakukan selama satu minggu pertama di Tokyo Jepang. Karena temen gue kerja dan pulangnya malem, gue harus bisa jalan-jalan sendiri. Gue belajar banyak hal mulai dari cara liat peta, cari jalur MRT, cara beli makan dan cara tanya arah dalam bahasa Jepang.

Beberapa lokasi yang sempat gue samperin di satu minggu pertama antara lain:

Akihabara

akihabara station gundam cafe akihabara

Satu tempat favorit para otaku (penggemar berat subkultur asal Jepang seperti anime dan manga) adalah Akihabara. Disini terdapat berbagai macam toko yang menyajikan action figure, mainan hobi, maid cafe, toko elektronik dan lain sebagainya.
akihabara sega akihabara bridge

Yodobashi Camera dan Big Camera

yodobashi camera big camera

Karena salah satu hobby gue adalah window shopping (jalan-jalan cuci mata tanpa membeli), dua toko elektronik besar ini wajib hukumnya untuk gue kunjungi. Memang agak racun sih, tapi karena dana terbatas, gue harus mawas diri.

Kastil dan Kuil

kuil jepang kastil jepang

Kastil dan kuil merupakan ciri kas budaya Jepang. Sayang rasanya kalo sudah sampe Jepang tapi tidak foto-foto di depan kastil dan kuil 😀

Ginza dan Ueno

Ueno Jepang Ginza Jepang

Ada dua tempat yang harus kalian kunjungi ketika berada di Tokyo Jepang. Kedua tempat itu adalah Ginza dan Ueno.

Ginza merupakan kawasan elit dan konon katanya merupakan daerah yang harga tanahnya paling mahal di seluruh Jepang. Harga tanah di Ginza bisa mencapai 4.8 milyar rupiah per meter persegi! (info dari Tribunnews). Sedangkan Ueno berbeda dengan Ginza yang dipenuhi dengan kehidupan glamor dan high class.

Di Ueno, terdapat sebuah jalan yang diberi nama アメ横 (Ameyoko). Tempat ini merupakan tempat favorit para turis, karena di tempat ini terdapat pasar tradisional dimana para turis dapat membeli pernak pernik dengan harga yang lebih murah dibandingkan tempat lain. Di tempat ini, turis juga bisa menawar harga yang tertera atau ditawarkan penjual.

Selain tempat-tempat menarik di atas, gue juga menyempatkan mampir di beberapa tempat makan yang direkomendasikan temen gue. Salah satu favorit gue adalah bakar-bakaran alias barbeque dan ramen.

hormon futagobarbeque ramen

Satu minggu sudah kuhabiskan di Tokyo, saatnya gue harus kembali ke tujuan awal kenapa pergi ke Jepang, jalan-jalan belajar! Perpisahan dengan teman-teman ditutup dengan makan barbeque bersama malam itu, karena keesokan harinya sudah harus flight ke Beppu.

Selamat tinggal Tokyo, Halo Beppu

Kampus gue Ritsumeikan Asia Pacific University berada di Kota Beppu, Prefecture Oita di Pulau Kyushu (pulau paling selatan di Jepang). Perjalanan ke Beppu memang sudah gue rencanakan dari jauh-jauh hari, tiket pesawat dari Tokyo ke Fukuoka Airport hanya sekitar 500.000 rupiah saja dengan JetStar karena domestic flight. Kalo ditotal biaya flight dari Jakarta ke Fukuoka dengan melewati Tokyo kurang lebih 2.5 juta rupiah (Masih lebih murah dari pada flight yang lain).

Sesampainya di Fukuoka Airport, gue mesti naek bis menuju ke Kota Beppu lalu ke universitas gue, agak ribet sih tapi demi pengalaman dan demi dompet, gapapa deh.. (Sebetulnya ada rute yang lebih hemat lagi yang baru gue tau setelah gue tinggal di Beppu, yaitu Jakarta – Tokyo – Oita Airport – Beppu).

Ritsumeikan Asia Pacific University (APU)

ritsumeikan asia pacific apu

Dari Fukuoka ke Univ, gue harus turun di Beppuwan (Beppu rest area) yang ada tepat di sisi atas dari universitas gue. Pemandangan pertama yang gue liat persis seperti yang ada di gambar bawah ini. Ketika menoleh ke sebelah kanan, maka terlihatlah pemandangan seluruh Kota Beppu. Yup, I know! Universitas gue ada di atas gunung! 😀
ritsumeikan asia pacific top viebeppu city

Setelah turun ke bawah, gue memasuki area universitas dan langsung dipandu untuk menuju ke asrama untuk registrasi ulang. Sebetulnya gue masih pengen puter-puter, tapi karena gue bawa koper yang cukup besar, jadi gue ikutin aja panduan dari temen-temen penunjuk arah untuk ke asrama.

AP House (asrama universitas)

Lokasi AP House hanya 5-10 menit dari Universitas utama dan dihubungkan oleh jembatan besi (yang dinginnya minta ampun ketika musim salju).

Sesampainya di asrama, gue disambut beberapa temen-temen dari Indonesia dan singkat cerita setelah dokumen-dokumen dicek kelengkapannya, gue dapet kunci kamar asrama! Setelah gue masuk, dan gue tata barang-barang gue, kurang lebih seperti dibawah ini penampakannya.
kasur ap house meja ap house asrama ap house

Ada satu tempat tidur, meja dan lemari tanpa tutup. Serta ada WC. Ya! cuma WC yang tidak bisa dipake untuk mandi, karena di Jepang tempat mandi (shower) dan tempat buat poop dipisahkan, karena memang kata mereka itu 2 hal yang berbeda.
chandra ap house
Ruangan ini lah yang menemani 6 (enam) bulan pertama kehidupan gue sebagai mahasiswa asing di Negeri Sakura. Setelah itu gue putuskan untuk sewa apartment bareng-bareng dengan temen dari Indonesia karena lebih murah dan lokasinya nggak di atas gunung. 😀

Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru

opening ceremony APU

Setelah beberapa hari tinggal di asrama, bertemu dengan berbagai teman dari manca negara, dari detik inilah lembar kehidupan baru gue dimulai. Tentu saja ini tidak terlepas dari ijin dan berkat luar biasa dari Yang Kuasa dan keluarga serta orang-orang dekat yang selalu memberi support.

Demikian sharing singkat gue mengenai bagaimana gue memulai kehidupan di Negara Jepang sebagai seorang mahasiswa pasca sarjana. Tidak terbayang sebelumnya, seorang anak biasa dari keluarga yang pas-pas’an menghabiskan kehidupan sehari-harinya dengan game online, bisa mendapatkan kesempatan belajar di negeri orang. Ketika Tuhan telah merencanakan, maka tidak ada manusia yang bisa melawannya. Karena percayalah rencanaNya adalah yang terbaik bagimu. 🙂

© 2013 – 2018, Christian Chandra. All rights reserved. Find out more at https://blog.christianchandra.com

1 Comment

Join the discussion and tell us your opinion.

Andika Wreply
20 Feb 2014 at 1:20 am

minta tips supaya beasiswanya lolos dong kak

Leave a reply